• Muhammad Firdaus

Belajar dari siapapun, dimanapun, kapanpun

Kehidupan di dunia ini pada dasarnya adalah proses belajar. Proses belajar tersebut melekat pada setiap aktivitas yang kita sehari-hari, disadari ataupun tidak. Ketika baru memualai sebuah pekerjaan baru terasa sangat rumit dan hasilnyapun tidak memuaskan. Seluruh pikiran, perhatian, tenaga dan bahkan emosi kita tersedot untuk mengerjakannya dengan benar. Namun kalau pekerjaan tersebut digeluti dalam jangka waktu tertentu maka lambat laun akan terasa lebih enteng, hasilnya lebih baik dan bahkan dikomandi dari alam bawa sadar. Ketika pengetahuan telah mengendap ke alam bawa sadat kita maka inilah yang disebut pengetahuan tacit atau implisit. Dari luar, orang yang memilikinya nampak bekerja secra instink atau naluriah.

Memang yang ada dalam kesadaran kita adalah proses belajar yang dilakukan secara sengaja dan terencana, misalnya belajar di sekolah, kuliah atau pelatihan. Biasanya pembelajaran formal seperti ini dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat atau bentuk lainnya. Namun tentu kesempatan untuk mengikuti proses belajar formal seperti itu tebatas. Dari pada mendikotomikan kedua bentuk pembelajaran di atas, tentu lebih bijak jika kita memadukan keduanya. Manfaatkan kesempatan belajar formal sambil tetap peka menangkap berbagai kesempatan belajar alamiah dalam keseharian kita.

Dalam tulisan ini saya akan mencontohkan bagaimana kita dapat memetik banyak pembelajaran dari fenomena yang kita alami sehari-hari. Secara khusus saya ingin mengungkapkan pembelajaran yang saya petik dari perjalanan ke Jepang tahu 2017.


Meskipun bukan kesalahannya, pengelola tetap minta maaf


Tahun 2017 saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan Policy Implementation and Evaluation di Jepang, tepatnya 21-28 Oktober 2017 yang diselenggarakan oleh Japan International Cooperation Center (JICE).


Rombongan tiba di Bandara Internasional Haneda Tokyo setelah melewati penerbangan 7 jam 20 menit. Penerbangan ini lebih lama dari biasanya karena pilot harus mengambil jalur memutar untuk menghindari Taiphoon. Berbeda dengan Bandara Changi Singapore yang proses pelayanan imigrasi, bagasi dan karantina super cepat, pengalaman saya kali ini justru proses pelayanan di Haneda terasa lebih lamban. Terlepas dari itu proses disembarkasi berlangsung tertib dan aman.

Own Collection

Penyelenggara pelatihan dari JICE yang menjemput segera membawa kami makan siang dan tour ke beberapa tempat. Tempat makan siang tergolong istimewa di atas Replika Kapal Shogun yang bernama Atakemaru. Kapal aselinya berjaya di perairan Jepang sekitar 370 tahun silam baik sebagai kapal penumpang maupun untuk tujuan militer.

Kini replikanya dijadikan restoran terapung bagi yang ingin mencicipi masakan otentik jepang dan masa lalu Atakemaru. Kapal ini sangat bersih dan mesinnya nyaris tidak menimbulkan getaran. Sebenarnya di Indonesia ada banyak peluang untuk menciptakan wisata memorial seperti ini apalagi kita dikenal sebagai bangsa pelaut dan dapat menciptakan kapal Phinisi yang mampu mengarungi 5 benua.

Objek kunjungan selanjutnya adalah Tokyo Skytree, yakni menara dengan yang menjulang setinggi 634 meter ke angkasa. Menara ini dipergunakan untuk broadcasting, restaurant, dan observation. Sayangnya cuaca Tokyo hari itu tidak bersahabat. Sejak tiba hujan sehingga dan dari lantai observasi Skytree hanya bisa memandang kota Tokyo samar-samar dibalik kabut di bawah sana.


https://id.wikipedia.org/wiki/Tokyo_Skytree

Namun justru ada pembelajaran yang dapat diambil disini. Usai tour, rombongan turun menggnakan lift yang super cepat. Ketika keluar dari lift di lantai dasar, ada petugas yang membagikan souvenir kecil. Saya bertanya kepada pengantar rombongan, "Kenapa pengunung diberi souvenir?" Dijawabnya, "Sebagai pernyataan maaf karena pengunjung tidak bisa menikmati pemandangan secara maksimal akibat hujan dan kabut". Luar biasa, mereka minta maaf atas kondisi alam yang diluar kendali mereka. Pelayanan di tempat lain umumnya justru menjadikan kondisi alam seperti ini sebagai kambing hitam atas ketidakmampuan memberikan pelayanan yang memuaskan.

Sekiar jam 6 sore baru bisa check in di hotel. Seperti lazimnya di Jepang, kamar hotel rata-rata kecil. Namun demikian kebersihannya luar biasa. Kamar mandinya seperti baru saja selesai dibangun sore hari itu juga. Tidak ada bercak noda biar sedikitpun.


Kita berangkat jam 09.10


Kemarin, tiba di Jepang disambut hujan dan badai Taiphoon. Namun kegiatan plesir ke beberapa tempat tetap dapat dilakukan. Tidak maksimal pengalamannya memang tetapi masih ada beberapa hari kedepan untuk menikmati berbagai sisi unik Jepang.

Ketika check ini di hotel kemarin, Makino, Koordinator Program dari JICE, telah menyampaikan untuk berkumpul di lobby dan berangkat dari hotel ke tempat pelatihan jam 08.40 keesokan harinya. Malam hari Makino menelpon bahwa karena adanya Taiphoon maka berangkat ke tempat pelatihan diundurkan dari jam 08.40 ke jam 09.10.

Sepintas, tidak ada yang istimewa dari peristiwa di atas. namun jika dicermati, maka tersirat budaya disiplin waktu orang Jepang. Waktu tidak lagi dihitung kelipatan 60 menit atau 30 menit, tetapi sudah lebih detail. Ini adalah refleksi dari kedisiplinan mereka memanfaatkan waktu menit demi menit. Kedisiplinan semacam ini ditemukan disemua negara maju, dan sebaliknya.

Demikian pula pembelajaran di kelas, dimulai jam 10.00 tepat sesuai jadwal.

Yang menarik di sesi pembelajaran ini adalah nara sumber yang tidak segan-segan mengatakan saya tidak tahu untuk hal yang tidak dikuasainya. Sebenarnya bukan hanya di jepang, di beberapa negara maju dimana saya pernah mengikuti pelatihan para nara sumbernya terkesan biasa-biasa saja. Dari segi gaya penampilan, nara sumber Indonesia bahkan lebih hebat. Hanya saja yang selalu menjadi tanda tanya bagi saya jika mereka biasa-biasa saja lantas apa yang membuat mereka bisa lebih maju?

Deputi Bidang Diklat Aparatur LAN yang kebetulan duduk berdekatan dengan saya di bus dalam perjalanan pulang ke hotel mengatakan “terletak pada kemampuan mereka mengimplementasikan”. Hal ini sejalan dengan pandangan salah seorang nara sumber di Urban Redevelopment Agency (URA) di Singapure pada kunjungan terpisah yang saya lakukan setahun sebelumnya. Dalam kesempatan mengantar peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat II ke sana saya merasa tersentak oleh pernyataan nara sumber URA, “Indonesia jauh lebih hebat dalam perencanaan”, katanya. "Justru kami yang perlu belajar dari Indonesia dalam hal ini", sambungnya. Saya sempat melirik beberapa orang peserta Diklat tersenyum kecil seolah bangga dengan sanjungan tersebut.

Beberpa saat kemudian nara sumber tersebut melanjutkan, “Kehebatan kami terletak di kemampuan mengimplementasikan perencanaan yang sederhana pada awalnya lalu berkembang dari waktu ke waktu”. Pernyataan tersebut terasa seperti pukulan yang menyentak kesadaran saya dan mungkin beberapa peserta Diklat yang sempat mendengarkan, betapa kita abai dalam hal ini. Benarlah perkataan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Thailand, Lutfi Rauf, yang pernah saya undang untuk memberikan ceramah di depan peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat II. “Kita hebat membuat perencanaan, tetapi begitu mau diimplementasikan semua menghindar”, katanya.

Mungkin penyebabnya bukan hanya hal di atas, tetapi masih ada banyak faktor lain yang terselip diantara cara berpikir dan cara bekerja mereka. Apa itu persisnya? akan tetap menjadi pertanyaan yang perlu dicari jawabnya.


Gedung Pemerintah dapat diakses masyarakat dan pelancong


Dalam suatu upacara peringatan Australia Day di Canberra yang berlangsung di Commonwealth Park dekat Danau Burley Griffin, terlihat bagaimana perdana menteri hadir dengan pengawalan yang longgar. Masyarakat yang datang menonton didekati, disapa dahkan dijabat tangannya. Untuk event level nasional oleh sebuah negara maju, upacara tersebut terkesan amat sederhana. Melihat suasana persiapan upacara, mertua saya yang seorang pensiunan militer yang kala itu sempat ikut menyaksikan merasa sangat heran dan tidak yakin kalau upacara tersebut akan dihadiri perdana menteri.

Selesai upacara perdana menteri langsung menepi dan menyapa kerumunan masyarakat yang datang menyaksikan jalannya upacara. Pengawal tidak terlihat sehingga masyarakat dapat leluasa berjabat tangan dan bahkan berbincang dengan perdana menterinya. Tentu saja pengawal tetap ada dan waspada, hanya saja caranya tidak demonstratif dan tidak seketat di negara lain.

Masih tentang Australia, seorang teman kuliah saya yang orang aseli Australia pernah menceritakan pengalamannya bertemu perdana menterinya di sebuah Bandara di Australia lantaran semua penerbangan tertunda akibat cuaca buruk. “Dia datang menyalami semua orang dan berbincang-bincang seolah dia bukan perdana menteri”, cerita teman saya penuh semangat.

Bukan hanya di Australia, tetapi dari pengalaman berkunjung dan hidup di beberapa negara maju, saya berkesimpulan bahwa pada umumnya pemerintah negara-negara tersebut menggunakan pendekatan “TRUST” yang tercermin dalam berbagai kebijakan serta segenap sikap dan tindakan pemimpinnya.

Terkait dengan Pelatihan Implementasi dan Evaluasi Kebijakan yang sedang saya ikuti di Tokyo dan Kyoto minggu ini, terlihat pula bahwa di Jepang evaluasi kebijakan menggunakan pendekatan “trust”. Evaluasi kebijakan tidak diatur secara ketat. Setiap instansi pemerintah diberi keleluasaan untuk melakukan evaluasi kebijakan sesuai kebutuhan masing-masing baik dari segi waktu, frekuensi maupun cara.

Gedung pemerintah seperti Tokyo Metropolitan Government Building selain sebagai markas besar pemerintahan juga memberi akses gratis ke masyarakat ke dek observasi. Di ketinggian 202 meter di gedung tersebut, masyarakat dapat menikmati pemandangan kota Tokyo, terutama di malam hari.

Karena dipercaya, maka masyarakatnyapun dapat dipercaya. Hari pertama saya di bandara Haneda Tokyo langsung beli kartu data agar bisa leluasa berinternet. Karena repot memasang kartu SIM dan mengaktifkannya, tanpa terasa amplop yang berisi uang Yen yang saya beli di Makassar terjatuh ke lantai. Ketika berjalan keluar toko, seseorang mengejar saya dari belakang dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang yang saya tidak mengerti, tetapi segera paham maknanya karena dia menunjuk ke amplop saya yang tergeletak di lantai. Juga malam ini ketika saya belanja oleh-oleh di salah satu toko, kasirnya menyusul saya dari belakang karena masih ada beberapa buah koin kembalian yang tidak saya ambil.


Seolah mengapung di udara, 458 km dalam 2 jam 10 menit



Source: istockphoto.com

Hari keempat, kami bergerak dari Tokyo ke Kyoto untuk melanjutkan sesi seminar di Retsumaikan University. Berangkat pagi dengan Shinkansen Bullet Train tercepat bernama Nozomi atau Hope atau Harapan. Diantara Shinkansen, Nozomi inilah yang tercepat mencapai 300 km per jam. Nama kereta api Shinkansen lainnya adalah Hikari (Light), Kagayaki, (Glitter) Kodama (Echo). Selain cepat, Shinkansen juga nyaman, gerbong seolah mengapung di udara. Jarak 458 km ditempuh hanya 2 jam 10 menit.

Sepanjang perjalanan, di luar jendela kiri dan kanan terlihat perkampungan kecil dengan rumah-rumah khas jepang yang rata-rata mungil, diselingi dengan kebun-kebun dan pabrik-pabrik. Jika agak pusing mengintip ke luar jendela, bisa berinternet atau menulis dengan lap top. Colokan listrik tersedia seandainya batterai lap top atau cellphone perlu diisi ulang. Kereta ini sangat tenang sehingga penumpang nyaman menulis dan membaca. Tidak terasa suara elektronik di atas Nozomi mengumumkan bahwa kita telah mendekati Stasiun Kyoto.

Sebelum check ini di hotel Green Rich di Kyoto, sempat berkunjung ke Fushimi Inari Shrime yang terkenal dengan ribuan Torii Gates (Gerbang berwarna orange dengan tulisan kanji yang dipahat). Sepanjang perjalanan kesana banyak wanita-wanita Jepang dan terkadang turis asing yang berpakaian kimono. Menurut Makino (Koordinator Program JICE) gadis-gadis mengenakan kimono akhir-akhir ini menjadi trend. Bahkan mereka biasa mendapat diskon jika belanja di toko mengenakan pakaian tradisional.

Kunjungan kedua ke Byodoin Temple. Candi ini tidak seberapa besar namun nampak sangat tenang dan indah. Dibalik keindahannya terimpan sejarah Jepang sepanjang seribu tahun. Patung gambaran Budha yang dibuat hampir seribu tahun lalu menghuni bangunan candi ini dan terdaftar sebagai situs warisan dunia.

Kyoto hanyalah kota terbesar ke tujuh di Jepang. Suasana lingkungannya juga kontras dengan Kota Tokyo. Terlihat banyak restoran-restoran kecil, masing-masing dengan masakan khas andalannya . Yang sedikit mengherankan bagi saya adalah wajah kota ini masih dipenuhi dengan tiang-tiang dan kabel-kabel listrik yang berserakan di puncaknya. Di luar dugaan karena bayangan saya selama ini kota-kota di Jepang sudah rapih.

Pembelajaran hari ini adalah bahwa infrastruktur transportasi darat yang terbangun dengan baik dalam kota maupun antar kota mendukung mobilitas dan produktifitas masyarakat. Apa yang telah dicapai oleh Jepang sejak tahun 1964 sangat dirindukan kehadirannya di tanah air sekarang ini. Keberadaan MRT di Jakarta adalah sebuah simbol kemajuan karena tidak hanya merubah moda transportasi tetapi juga budaya dan perilaku pengguna layanan yang dituntut disiplin antri, tepat waktu, menjaga kebersihan, saling menghormati sesama penumpang, dan sebagainya.


Di bawah sadar


Catatan hari ini akan saya isi dengan beberapa perilaku yang konsisten diperagakan oleh masyarakat Jepang di berbagai tempat dan aktivitas. Membungkuk sebagai bentuk penghormatan sudah lumrah diketahui. Olehnya itu saya ingin fokus ke beberapa perilaku yang mungkin belum banyak diketahui atau belum disadari tetapi dapat dirasakan ketika berinteraksi dengan mereka.


Naik Eskalator Menyisakan Ruang di Baris Kanan

Di mall, di stasiun subway, di kantor-kantor atau dimanapun ketika mereka naik eskalator, mereka hanya menggunakan satu baris dan merapat ke sisi kiri eskalator. Dengan demikian, ketika ada orang lain yang terburu-buru dapat leluasa menggunakan sisi kanan yang kosong. Ini adalah refleksi dari mental saling menghargai yang patut kita contoh.


Kasir Menyerahkan kantong Belanjaan dengan dua tangan

Perilaku lain yang saya amati adalah para kasir ketika menyerahkan kantong barang belanjaan maka dilakukan dengan menyodorkan jinjingannya menggunakan dua tangan sambil mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Jika hal ini hanya terjadi sekali atau dua kali maka tentu akan luput dari perhatian saya. Tetapi ini konsisten dilakukan di berbagai tempat yang saya kunjungi, rupanya sudah menjadi bagian dari budaya sopan santun dalam pelayanan mereka.


Seatbelt di bus harus dikenakan oleh sopir dan semua penumpang

Ketika naik bus di Jepang maka semua penumpang wajib pakai seatbelt. Makino san, Koordinator pelatihan JICE yang merangkap tour guide setiap kali harus mengingatkan kami untuk mengenakan seatbelt.

Sebagai ilustrasi pembanding, ketika saya masih memimpin PKP2A II LAN di Makassar dalam suatu perjalanan darat untuk memenuhi undangan upacara ulang tahun sebuah kabupaten, sopir saya meminta izin untuk tidak menggunakan seatbelt. Meskipun saya tetap meminta dia mengenakannya, tetapi saya tanyakan pula alasannya mengapa ia mau membuka seatbelt. Jawabnya, “mengganggu pak”.

Namun yang mengherankan di kreta api Shinkansen yang kecepatannya mencapai 300 kilometer per jam, tidak disediakan seatbelt. Jawabannya bisa saya reka. Kereta api modern ini sangat lembut jalannya dan nyaris tidak ada sentakan atau getaran, sehingga seatbelt tidak diperlukan. Yang juga mengherankan adalah diperbolehkannya kita mengkonsumsi makanan kecil selama perjaanan dalam bus. Di negara lain, Singapura, philippines sejauh yang pernah saya alami, hal tersebut tidak diperbolehkan.

Beberapa contoh perilaku masyarakat jepang di atas jika diamalkan oleh kita maka sesungguhnya kita sudah melakukan revolusi mental.

23 views0 comments